Minggu, 16 Maret 2014

Sinopsis Novel Layaali Turkistan

Novel Layaali Turkistan karya Najib al-Kailani menceritakan tentang seputar konflik ideologi dan kekuasaan yang terjadi di Turkistan sekitar tahun 1900-1950. Novel ini mengungkap konflik politik perjuangan rakyat Turkistan dan ideologi yang penuh dengan kekejaman. Konflik politik dalam novel ini menggambarkan seputar perjuangan rakyat Turkistan dalam mempertahankan negara mereka dari penjajahan komunis yaitu Cina dan Rusia. Turkistan dengan negeri yang makmur dan kaya dengan sumber alam menarik perhatian negera tetannga untutk ikut memiliki. Di bawah penjajahan Cina pemberontakkan terus berlanjut, pihak Cina menangkapi dan menahan para kalangan yang berani mencoba menentang kebijakan pemerintahannya.
           Novel Layaali Turkistan,  secara sepintas novel ini memang membicarakan seputar perjuangan di Turkistan dan Najib al-Kailani menampilkan tokoh-tokoh seperti Mustafa, Nagmatullail, Osman Batur, Raja Komul, Pao Din, Khajah Niaz, dan Sayyid Khan. Tapi dengan tokoh-tokoh dalam novel itu Najib al-Kailani mengisahkan sebuah kehidupan di balik pegunungan-pegunungan Turkistan sewaktu Turkistan dalam masa pahit penjajahan. Tak dapat disangkal, jika novel Layaali Turkistan ini semacam sepenggal sejarah perjuangan Turkistan dalam bentuk karya sastra. Menariknya, novel ini tak selalu membicarakan prahara politik, pembereontakan, perjuangan, dah pertarungan ideologi. Di tengah kekusutan sosial-politik di negeri Turkistan itu, terpapar pula kisah cinta tokoh utama dalam novel ini yaitu Mustafa, mantan pengawal kerajaan qomul, dengan pelayan raja komul yaitu Nagmatullail. Meski novel ini berkisah seputar perjuangan politik Turkistan dari balik pegunungan dan gurun-gurun, tetapi Najib membumbuinya dengan cerita cinta yang memilukan.
 
Bila perlu salinan novelnya, bisa download disini.

Kumpulan Puisi Curahan Hati

Gelisah

kalaulah kau tau ap yg kurasakan
mungkin hati ini tdk akn bertanya-tanya
kegelisahan yang terus membelanggu hati
seakan menorehkan sejuta luka dalam diri
dimanakah nalurimu....
kepekaan dirimu seakan tertutup rapat
tak mengharapkan hadirnya kebahagiaan
kalaulah kau mengerti dan mau membuka diri
mungkin kebahagiaan itu akan jadi milikmu

Hati yang Kesal

mungkin kau tak akn prnah perduli
atas apa yg aku rasakan kini
seruan hati yang bergema ternyata
tak mampu menggetarkan hatimu
apa lagi yg harus aku lakukan?
... sejuta keindahan yg ku buat tak mampu
membangunkan kesadaranmu
apa kau benar-benar buta? atau...
pura-pura buta dan tuli?
sedikitlah kau tengok akan diri yg terhempas kini
mungkin kau kan tahu
apa isi hatiku...

Rasa

pahit rasanya kala derita menghampiri
kecewa rasanya kala gagal yang ditemui
dan sakit rasanya kala hati tak terobati
tapi, kegagalan segala hal bukan berarti harus mengakhiri
berusahalah untuk mencoba kembali
karena kegagalan bukanlah abadi...

Teori Psikologi Sastra


A.    Psikologi Sastra
Psikologi sastra merupakan salah satu bagian dari keilmuan kritik sastra. Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra.[1] Sebuah model penelitian interdisiplin dengan menetapkan karya sastra sebagai pemilik posisi yang lebih dominan.[2] Dengan demikian unsur-unsur psikologis pun menampilkan aspek-aspek yang berbeda. Psikologi sastra merupakan analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis. Dengan memusatkan perhatian pada tokoh-tokoh, yang tentu akan melibatkan aspek-aspek yang ditinjau dari segi kepribadian. Teori-teori kepribadian adalah modal utama dalam pengkajian tokoh dalam karya sastra, untuk memperoleh nilai-nilai psikologis tokoh. Dalam pendekatan psikologis awal lebih dekat dengan pendekatan biografis dibandingkan dengan pendekatan sosiologis sebab analisis yang dilakukan cenderung memanfaatkan data-data personal.
1.      Psikologi Kepribadian
Kepribadian merupakan pembawaan yang mencakup dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang merupakan karakteristik seseorang yang menampilkan cara beradaptasi dan berkompromi dalam kehidupan. Namun pakar lain mengatakan bahwa kepribadian menurut psikologi bisa mengacu kepada pola karakteristik perilaku dan pola pikir yang menentukan penilaian seseorang terhadap lingkungan. Kepribadian dibentuk oleh potensi sejak lahir yang dimodifikasi oleh pengalaman budaya dan pengalaman unik yang mempengaruhi seseorang sebagai individu, dan untuk memahami kepribadian yang mencakup kualitas nalar, psikoanalisis, pendidikan sosial, teori-teori humanistik.[3]
Kajian kepribadian adalah kajian mengenai bagaimana seseorang menjadi dirinya sendiri, karena setiap individu itu memiliki pengalaman dan keunikan sendiri, walaupun semua berdasarkan hukum yang berlaku umum. Hal yang penting adalah tidak ada hukum kepribadian yang terpisah dari teori psikologi pada umumnya. Kajian kepribadian merupakan suatu proses yang harus dipahami dengan mempelajari peristiwa yang mempengaruhi perilaku seseorang, sekalipun kaitannya dengan konteks sosial yang harus dipahami melalui kebudayaan. Dengan demikian, kepribadian adalah suatu integrasi dari semua aspek kepribadian yang unik dari seseorang menjadi organisasi yang unik, yang menentukan dan dimodifikasi oleh upaya seseorang beradaptasi dengan lingkungannya yang selalu berubah.
Psikologi kepribadian adalah psikologi yang mempelajari kepribadian manusia dengan objek penelitian factor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Di dalamnya dipelajari kaitan antara ingatan atau pengamatan dengan perkembangan, kaitan antara pengamatan dengan penyesuaian diri pada individu, dan seterusnya. Sasaran psikologi kepribadian ialah; pertama, memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia. Kedua, psikologi kepribadian mendorong individu agar dapat hidup secara utuh dan memuaskan. Ketiga, agar individu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya secara optimal melalui perubahan lingkungan psikologis.[4]
2.      Teori Kepribadian
1)      Alam Bawah Sadar
Freud menyatakan bahwa pikiran manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar (unconscious mind) ketimbang alam sadar (conscious mind). Ia mengatakan bahwa kehidupan seseorang dipenuhi oleh berbagai tekanan konflik, untuk meredakan tekanan dan konflik tersebut manusia dengan rapat menyimpannya di alam bawah sadar. Oleh karena itu menurut Freud alam bawah sadar merupakan kunci memahami perilaku seseorang. Tak sadar adalah apa yang tak terjangkau oleh sadar.[5]
Menurut Freud, hasrat tak sadar selalu aktif dan selalu siap muncul. Kelihatannya hanya hasrat yang muncul, tetapi melalui suatu analisis ternyata ditemukan hubungan antara hasrat sadar dengan unsur kuat yang datang dari hasrat taksadar. Hasrat yang timbul dari alam tak sadar yang diapresiasi selalu aktif dan tidak pernah mati. Hasrat ini berasal dari masa kecil yang pengaruhnya sangat kuat.
2)      Teori Mimpi
Freud menghubungkan karya sastra dengan mimpi. Sastra dan mimpi dianggap memberikan kepuasan secara tak langsung. Mimpi seperti tulisan merupakan system tanda yang menunjuk pada sesuatu yang berbeda, yaitu melalui tanda-tanda itu sendiri. Perbedaan karya sastra dan mimpi adalah karya sastra terdiri atas bahasa yag bersifat linier; sedangkan mimpi terdiri atas tanda-tanda figurative yang tumpang tindih dan campur-aduk. Mimpi dalam sastra adalah angan-angan halus.
Freud juga percaya bahwa mimpi dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Mimpi merupakan representasi dari konflik dan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Hebatnya derita karena konflik dan ketegangan yang dialami sehingga sulit diredakan melalui alam sadar. Mimpi kerap tampil dalam bentuk simbolisasi dan penyamaran sehingga membutuhkan analisis mendalam untuk memahaminya.
Mimpi mempunyai dua isi, yaitu isi manifes dan isi laten. Isi manifes adalah gambar-gambar yang diingat ketika diri terjaga, dan muncul ke dalam pikiran ketika mencoba untuk mengingatnya. Dan isi laten yang dimaksud adalah pikiran-pikiran mimpi, ialah sesuatu yang tersembunyi (pikiran tersembunyi) bagaikan sebuah teks asli yang keadaannya primitive dan harus disusun kembali melalui gambar yang sudah diputarbalikkan sebagaimana disajikan oleh mimpi manifes.    
3.      Struktur Kepribadian Sigmund Freud
Freud membahas pembagian psikisme manusia, yaitu id yang terletak di bagian taksadar, yang merupakan libido atau dorongan dasar. Ego yaitu peraturan secara sadar antara Id dan realitas luar yang bertugas sebagai penengah yang mendamaikan tuntutan dan larangan superego. Super ego merupakan penuntun moral dan aspirasi seseorang, yang terletak sebagian dari sadar dan sebagian lagi di bagian taksadar yang merupakan hasil pendidikan dan identifikasi pada orang tua. [6]
Id merupakan energi psikis dan naluri yang menekan manusia agar memenuhi kebutuhan dasar, seperti kebutuhan makan, seks menolak rasa sakit atau tidak nyaman. Id ini menurut Freud, berada di alam bawah sadar, tidak ada kontak dengan realitas. Cara kerjanya id berhubungan dengan prinsip kesenangan, yaitu selalu mencari kenikmatan dan selalu menghindari ketidaknyamanan.
Ego terperangkap diantara dua kekuatan yang bertentangan dan dijaga serta patuh pada prinsip realitas dengan mencoba memenuhi kesenangan individu yang dibatasi oleh realitas. Seseorang penjahat, misalnya yang hanya ingin memenuhi kepuasan diri sendiri, akan tertahan dan terhalang oleh realitas kehidupan yang dihadapi. Demikian pula dengan adanya individu yang memiliki impuls-impuls seksual dan agresivitas yang tinggi misalnya, tentu saja nafsu-nafsu tersebut tidak akan terpuaskan tanpa pengawasan. Tugas ego memberi tempat pada fungsi mental utama, seperti penalaran, penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Demikianlah, ego itu merupakan pimpinan utama dalam kepribadian. Id dan ego  tidak memiliki moralitas karena keduanya tidak mengenal nilai baik dan buruk.[7]
Adapun struktur yang ketiga adalah super ego yang mengacu pada moralitas dalam kepribadian. Super ego sama halnya dengan ‘hati nurani’ yang mengenali nilai baik dan buruk. Super ego berfungsi sebagai lapisan yang menolak sesuatu yang melanggar prinsip moral, yang menyebabkan seseorang merasa malu atau memuji sesuatu yang dianggap baik.[8]  
Id, ego, dan seper ego, ketiganya mempunyai arti yang spesifik. Dapat digaris bawahi bahwa Id itu adalah system kepribadian manusia yang paling dasar dan paling gelap dalam bawah sadar manusia, berisi insting dan nafsu-nafsu. Id ini hanya dapat dikendalikan dan tidak dapat dimusnahkan. Kalau dalam tidur terjelma sebagai mimpi. Ego adalah kesadaran akan diri sendiri yang merupakan peraturan secara sadar antara id  dan realita luar. Ego biasanya mengubah sifat id dari yang abstrak kepada hal-hal yang berdasarkan pada prinsip kenyataan. Selanjutnya super ego sebagai sebuah lapisan yang menolak sesuatu yang melanggar prinsip moral, yang dapat menyebabkan seseorang merasa malu atau memuji sesuatu yang dianggap baik. Super Ego berkembang sebagai pengontrol kebutuhan id dan berisi nilai-nilai atau evaluatif.[9]


[1]Albertine Minderop. Psikologi Sastra, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010),    hal. 58.
[2]Nyoman Kutha Ratna. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 349.
[3]Albertine Minderop. Psikologi Sastra, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010),    hal. 4.
[4]Albertine Minderop. Psikologi Sastra., Ibid, hal. 7.
[5]Albertine Minderop. Psikologi Sastra., Ibid, hal. 14.
[6]Atar Semi. Kritik  Sastra., (Bandung: Angkasa, 1989), hal. 48.
[7]Albertine Minderop. Psikologi Sastra, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010),    hal. 21.
[8]Atar Semi. Kritik  Sastra., (Bandung: Angkasa, 1989), hal. 48.
[9]Suroso, dkk. Kritik Sastra; Teori, Metodologi, dan Aplikasi., (Yogyakarta: Elmatera Publishing, 2009) hal. 42.

Biografi Sastrawan Arab/Najib Al-Kailani


A.                Biografi Najib Al-Kailani
Beliau dilahirkan tahun 1931 di desa Syarsyabah di tengah keluarga petani. Tamat dari SLTA tahun 1949 di Thanta. Kemudian meneruskan di Fakultas Kedokteran Universitas Cairo. Menjelang akhir kuliahnya beliau di tangkap pada tahun 1955 dengan tuduhan terlibat sebagai anggota al-Ikhwan al-Muslimin. Dan divonis 10 tahun penjara. Pada tahun 1954 dibebaskan karena alasan kesehatan, setelah selama hampir lima tahun berpindah-pindah penjara dan menerima berbagai macam penyiksaan. Kemudian beliau meneruskan kuliahnya di universitas dan jurusan yang sama hingga tamat tahun 1960. Sejak saat itu disamping bekerja sebagai dokter beliau menulis puisi, cerita pendek, novel dan naskah teater. Pada tahun 1965, Gamal Abden Nasser menginstruksikan dari Moskow untuk kembali menangkapi para aktivis IM. Termasuk diantaranya, beliau, ditangkap untuk kedua kalinya. Sampai akhir keruntuhan rezim tahun 1967 beliau kembali menghirup udara bebas.
Tahun 1968 Beliau meninggalkan Mesir ke Kuwait dan bergabung dengan para dokter di sana. Tak lama kemudian beliau pindah ke Emirat dan bekerja sebagai dokter yang mengetuai sebuah yayasan kesehatan. Dan tetap berada di luar mesir hampir seperempat abad lamanya.
Tulisan-tulisan beliau sangat khas. Karena lahir dari penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan dan cinta. Ditengah penghimpitan dan tekanan kezaliman. Terutama berbagai bentuk penyiksaan di penjara. Lebih dari 70 buku novel dan cerita yang beliau tulis.
Nuansa-nuansa sosial dalam tulisan beliau sangat kental. Terutama pembelaan terhadap para kaum lemah dan teraniaya, serta melawan rezim kezhaliman dan kebatilan. Disamping itu nuansa-nuansa religius yang cukup kental. Serta mengangkat para ulama dan ilmuan.
Justru pada saat beliau di penjara, novelnya “Ath-Thariq At-Thawil” (Jalan Panjang) meraih penghargaan karya terbaik lomba menulis yang diadakan Kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir. Sebuah novel tentang perang dunia kedua. Beliau menggunakan nama pena. Dan baru diketahui nama asli beliau setelah pengumuman pemenang lomba tersebut.
Karya beliau yang lain yang mendapat penghargaan adalah kumcer “Dumu’ al-Amir” (Air Mata Pangeran) sebuah antologi cerpen sejarah Islam. Cerpen-cerpen beliau yang lain yang mengangkat fenomena sosial di Mesir dan beberapa negara Timur Tengah: “Ardhul Anbiya” (Bumi Para Nabi); “Umar Yadhar fi al-Quds” (Umar Muncul di Yerussalem); Novel “Layali Turkistan” (Malam-malam Turkistan); “Amaliqah asy-Syimal” (Raksasa dari Utara); “Adzra’ Jakarta” (Gadis-gadis Jakarta); “Al-Yaumu al-Mau’ud” (Hari yang Dijanjikan) sebuah kisah tentang perang salib. Novel “Qatilu Hamzah” (Pembunuh Hamzah).
Novel “Ath-Thariq At-Thawil” (Jalan Panjang), pemenang lomba menulis Kementrian Pendidikan dn Kebudayaan tahun 1959 mendapatkan sambutan hangat dari berbagai kalangan. Hingga kemudian dijadikan diktat wajib pelajaran sastra para siswa SLTA. Juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Rusia.
Menurut sastrawan ini, tak ada yang bertentangan dan berlawanan antara seni, sastra dan Islam. Jika ada kontradiksi, pada hakikatnya merupakan sebuah pemahaman parsial dari Islam, atau upaya menjauhkan seni dan sastra dari nilai-nilai Islam. Yaitu usaha sekularisasi dari aspek sastra dan seni. Islam tak pernah memerangi atau mengebiri seni dan sastra. Justru menumbuhkan dan mendukungnya. Hanya saja mengedepankan nilai-nilai normatif dan moral. Bukan mengatasnamakan liberalisasi tanpa aturan untuk membungkus kebobrokan dengan nama seni dan sastra.
Beliau termasuk yang anti dengan sastra-sastra cabul yang mengeksploitasi tubuh manusia serta menilai sesuatu dengan sudut pandang materi. Novel beliau “Alladzina Yahtariqun” (Mereka yang Terbakar) pernah disinetronkan pada tahun 1980-an. Mengisahkan tentang kebobrokan manajemen sebuah poliklinik dan kejujuran serta keuletan dan kegigihan seorang dokter muda yang didera berbagai fitnah.
Beliau dikenal kepiawaiannya dalam menulis novel. Pandai memilih diksi yang kuat dan variatif serta kuat pengaruh kata-katanya. Disamping itu gaya dialog yang elegan membuat pembaca menjadi terbawa arus cerita dengan penuh penghayatan. Sebut saja novel-novel sejarah beliau menghadirkan para sahabat dengan potret kekinian. Selain itu penguasaan cerita diberbagai belahan dunia seperti; “Layali Turkistan” (Malam-malam Turkistan) menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang berkorban untuk kesucian tanahnya yang diinjak-injak penjajah. Seorang perempuan yang gigih melawan koloni. Namun cobaan yang dihadapinya sangat berat. Pilihannya menyebabkan ia divonis sebagai pengkhianat bangsanya. Rakyatnya baru tahu kalau ia adalah pahlawan, ketika ia menemui syahidnya.
Demikian juga “Amaliqah asy-Syimal” (Raksasa dari Utara); yang mengupas berbagai permasalahan kaum muslimin di Nigeria. “Adzra’ Jakarta” (Gadis Jakarta); yang menceritakan kisah perlawanan kaum muslimin terhadap gelombang komunisme yang cukup kuat. Perlawanan yang merenggut nyawa lebih dari ¼ juta jiwa. Ketiga novel ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Juga beberapa bahasa lainnya.
Kemudian ada lagi novel “Adh-Dhil al-Aswad” (Bayangan Hitam) kisah dari negeri Ethiopia. Mengungkap arsip-arsip sejarah dan rahasia yang banyak disembunyikan oleh para sejarahwan.
Selain tulisan-tulisan fiksi yang selalu laku itu, beliau juga menulis tentang Kritik Sastra. Beliau menulis, “Al-Islamiyah wa al-Madzahib al-Adabiyah” (Islam dan Aliran-aliran Sastra); “Madkhal ila al-Adab al-Islamiy” (Pengantar Sastra Islam); “Rihlati ma’a al-Adab al-Islamiy” (Perjalananku Bersama Sastra Islam) dll. Beliau juga menulis naskah teater; “Ala Aswar Dimasyq” (Penjara Damaskus) dll. Tulisan-tulisan non fikdi beliau: “Tahta Rayah al-Islam” (Di Bawah Bendera Islam); “Ath-Thariq ila Ittihad Islamiy” (Jalan Menuju Persatuan Islam); “Haula ad-Din wa ad-Daulah” (Seputar Agama dan Negara). Tulisan fiksi dan nonfiksi beliau yang ditunjang oleh spesialisasi sebagai dokter juga cukup banyak. Diantaranya: “Al-Ghida’ wa ash-Shihah” (Makanan dan Kesehatan); “Ihtaris min Dhaght ad-Dam” (Hati-hati Dengan Tekanan Darah Tinggi). Novel “Alladzina Yahtariqun” (Mereka yang Terbakar), “Qishatu al-Idz” (Kisah Aids) dan sebagainya. Juga karya dan tulisan-tulisan beliau yang lainnya.
Aliran sastra Islam yang begitu kuat dalam berbagai tulisannya, terutama novel dan cerpen-cerpennya tak menghalangi karya tersebut untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa; Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Urdu dan beberapa bahasa lainnya.
         Dan sastrawan bersahaja dan agung itu akhirnya memilih kembali ke Mesir, tanah kelahirannya; setelah merantau kurang lebih seperempat abad. Sakit yang dideritanya juga tak menghalanginya menggerakkan jari-jarinya untuk terus berkarya dan berdakwah.Hingga Allah pun memanggilnya. Pada tanggal 5 Syawal 1415 H bertepatan dengan 6 Maret 1995, beliau wafat dan mengakhiri perjuangannya di dunia ini. Menghadap Tuhannya. Meski jasad beliau telah 10 tahun dikubur di Mesir, namun ruh perjuangan beliau masih memencar bukan hanya di Mesir, namun ke seluruh pelosok dunia; termasuk di Indonesia.